Sabtu, 28 November 2009

Habib Abdul Qadir bin Alwy Assegaf (Manakib)

Angin Segar dari Kota Tuban

Auliya’ ini dikenal banyak membawa angin segar bagi umat, terutama di kota Tuban dan sekitarnya. Para auliya’ di jamannya banyak memuji dan mengagungkan beliau

Sosok Habib Abdul Qadir dalam kesehariannya dikenal sebagai pribadi yang ramah tamah, murah senyum dan dermawan. Semua orang yang mengenalnya, pasti akan mencintainya. Tidak heran bila para auliya’ di jamannya banyak memuji dan mengagungkan beliau. Salah satunya, Habib Abdullah bin Muhsin Al-Attas, beliau selalu mengunjungi semasa hidup mau pun sesudah wafatnya. Wali Kramat dari Empang, Bogor itu bersyair dengan pujian,”Telah bertiup angin segar dari Kota Tuban….” Auliya lain yang sering mengunjunginya adalah Habib Ahmad bin Abdullah Alattas, Pekalongan dan Habib Abdul Qadir bin Quthban.
Habib Abdul Qadir bin Alwy As-Segaf dilahirkan di Seiwun pada tahun 1241 H. Sejak kecil ia telah dididik secara khusus oleh paman beliau, Habib Abdurrahman bin Ali Assegaf. Oleh sang paman, Habib Abdul Qadir selalu diajak berziarah ke tempat-tempat yang jauh dari tempat tinggalnya di Seiwun. Dalam berziarah ke tempat para auliya’, ia pun pernah menyaksikan kejadian yang menakjubkan hatinya, yakni saat berziarah ke makam Syaikh Umar Ba Makhramah. Dimana, Habib Abdurrahman ketika di dalam kubah makam Syaikh Umar Ba Makhramah, tiba-tiba Syaikh Umar bangun dari kuburnya dan bercakap-cakap dengan Habib Umar. Habib Abdul Qadir menyaksikan kejadian itu secara yaqadzah (terjaga, bukan melalui mimpi).
Habib Abdul Qadir dikenal sejak usia remaja berteman akrab dengan Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi (Sahibul Maulid Simthud Durar) dan Habib Abdullah bin Ali Al-Hadad (Sahibur Ratib Hadad). Bahkan di akhir umur Habib Abdullah Al-Hadad pernah berkirim surat kepada Habib Abdul Qadir yang diantaranya berisi,”Sesungguhnya jiwa-jiwa itu saling terpaut.” Tidak lama setelah itu Habib Abdullah bin Ali Al-Hadad wafat, 27 hari kemudian Habib Abdul Qadir juga wafat. Beliau juga mempunyai hubungan yang istimewa dengan Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi (Surabaya) dan Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdar (Bondowoso).
Kedekatan hubungan Habib Abdul Qadir dengan Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi tidak lepas dari kejadian menimpa Habib Muhammad yang sering kali tidak bisa menguasai diri ketika kedatangan hal (keadaan luar biasa yang meliputi seseorang yang datang dari Allah SWT). Dalam keadaan seperti itu Habib Muhammad tidak tahu apa yang terjadi di sekitarnya.
Suatu saat Habib Muhammad kedatangan hal ketika sedang berjalan, kebetulan saat itu Habib Abdul Qadir sedang berada di dekatnya. Melihat keadaan Habib Muhammad yang hampir tidak sadarkan diri, Habib Abdul Qadir segera menyadarkannya, sehingga Habib Muhammad pun sadar dan melihat Habib Abdul Qadir telah berada di depannya. Mereka berdua akhirnya berpelukan,”Ini adalah sebaik-baik obat,”kata Habib Muhammad dengan raut wajah yang gembira. Sejak itulah, hubungan Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi dan Habib Abdul Qadir semakin erat dan saking dekatnya, Habib Muhammad menyatakan bahwa menceritakan tentang keadaaan Habib Abdul Qadir lebih manis dari madu. Kecintaan itu juga oleh Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi diungkapkan dalam syair:
Wahai malam yang penuh cahaya/
Semua permintaan telah terkabul/
Hari ini aku datang ke Tuban di awal bulan/
Putra Alwi yang kucintai/
Kelezatannya tiada bandingan/
Dia lah pintu masuk dan pintu keluar kita/
Obat bagi yang kena segala penyakit/
Dari hatinya memancar rahasia sempurna/
Semoga dengan berkahnya, dosa dan salah kita diampuni//

Pernah suatu ketika Habib Abdul Qadir dalam perjalanan pulang dari haji bersama rombongan dengan mempergunakan perahu. Ternyata perahu yang dinaikinya berlubang, air pun masuk menerobos dengan deras ke dalam perahu. Orang-orang panik dan segera mengurasnya. Tapi, air yang masuk bukan semakin habis, malah semakin banyak dan memenuhi seluruh perahu hingga hampir tenggelam. Keringat dan air laut berpadu membasahi pakaian yang dikenakan mereka yang tengah berusaha dengan keras menguras air dalam perahu. Para penumpang menangis karena putus asa.
Melihat hal itu Habib Abdul Qadir segera masuk ke dalam bagasi kapal beserta dua isterinya. Setelah menutup pintu beliau berdoa sambil mengangkat tangannya memohon kepada Allah. Tiba-tiba datanglah empat orang lelaki yang telah berdiri di hadapannya, kemudian salah satunya menepuk punggungnya.”Hai Abdul Qadir! Aku Umar Muhadar,”katanya sambil memperkenalkan tiga orang yang ada disebelahnya,”Ini kakekmu, Alwi bin Ali bin Al-Faqih Al-Muqaddam. Itu kakekmu, Abdurrahman Assegaf dan yang itu Syaikh Abu Bakar bin Salim.”
Setelah itu lelaki tersebut menyuruh Habib Abdul Qadir menguras air dan keempat lelaki asing itu pun lalu menghilang.
“Apakah kalian melihat empat orang tadi?” tanya Habib Abdul Qadir kepada kedua isterinya.
“Tidak,” jawab mereka.
Habib Abdul Qadir segera keluar dan menyuruh para penumpang untuk menguras kembali air laut yang masuk ke dalam perahu. Tak berapa lama kemudian, perahu besar itu sudah tidak berisi air lagi. Ternyata lubang tadi telah lenyap, papan-papannya tertutup rapat seakan tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.
Dikisahkan pula, suatu malam Habib Abdul Qadir bermimpi, dalam mimpinya ia bertemu Nabi SAW tengah menuntun Habib Hasan bin Soleh Al-Bahr. Lalu Nabi SAW menyuruhnya membaca Doa Khidir AS sebanyak 50 kali setiap pagi dan sore. Habib Abdul Qadir merasa bilangan itu terlalu banyak. Ia ingin agar Habib Hasan memintakan keringanan untuknya, belum sempat diutarakan, Nabi SAW bersabda,”Bacalah sebanyak lima kali saja, tetapi pahalanya tetap 50.” Gambaran ini persis seperti lafadz barjanji ketika mengisahkan Isra’ Mi’raj. Seketika itu, Habib Abdul Qadir terjaga dari tidurnya dan membaca doa Nabi Khidir dari awal sampai akhir, padahal dia belum pernah tahu doa tersebut sebelumnya.
Ia lalu mencari teks doa itu dan menemukannya di kitab Maslakul Qarib, tetapi di sana ada tambahan dan pengurangan. Sampai akhirnya ia menemukan teks yang sama persis di kitab Ihya’ juz 4 dalam bab Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Imam Ghozali menyebutkan faedah dan pahala yang sangat banyak dalam doa ini. Jelaslah bahwa itu termasuk salah satu karamah Habib Abdul Qadir, sebab ia hafal doa yang cukup panjang hanya dengan dituntun Nabi Muhammad SAW. Dalam khasanah dunia pesantren, cara menghafal demikian disebut ilmu paled! atau apal pisan langsung wuled(sekali dengar langsung hafal).
Ketika ia sakit di akhir umurnya, salah seorang putranya yang bernama Umar mengusahakan kesembuhan dengan cara bersedekah atau yang lainnya. Ketika Habib Abdul Qadir tahu, ia langsung berkata,”Jangan merepotkan diri, karena Malaikat Maut sudah dua atau tiga kali mendatangiku.”
Dalam sakit itu pula ia sering menyambut kedatangan ahlil ghaib di tengah malam dan berbincang-bincang dengan mereka. Kejadian tersebut berlangsung hampir setiap malam, sampai suatu saat ditemukan secarik kertas di dekatnya yang bertuliskan syair,”Telah datang pada kami, Shohibul Waqt, Khidir dan Ilyas. Mereka memberiku kabar gembira seraya berkata,’Kau dapatkan hadiah serta pakaian. Jangan takut! Jangan khawatir dengan kejahatan orang yang dengki, serta syaitan’.”
Tidak lama setelah itu, ia meninggalkan alam yang fana ini tepatnya pada tanggal 13 Rabiul Awal 1331 H (1912 M). Jasadnya yang suci kemudian dimakamkan di pemakaman Bejagung, Tuban. Haul Habib Abdul Qadir biasanya diperingati pada bulan Sya’ban di Jl Pemuda, Tuban.

AL HABIB UMAR BIN JA’FAR ASSEGAF



Beliau R.a adalah kakek dari Habib Hasan bin Ja’far Assegaf. Beliau lahir tahun 1889 di kota Palembang. Ayah beliau Al Habib Ja’far adalah seorang saudagar besar dan beliau mempunyai saudara Al Habib Ali bin Ja’far Assegaf yang pertama kali di Indonesia menukil silsilah para habaib di Indonesia.

Dimasa kecil beliau menghafal :

Hadits Arbain An Nawawiyyah

Zubad (kitab)

Kitab Muwatto Imam Malik pada usia 15 tahun

Pada umur 20 tahun beliau berguru dengan Al Habib Ahmad bin Hasan Alatas, Hadhramaut dan Al Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al Habsyi. Lalu melanjutkan pergi haji yang pertama pada usia 25 tahun. Kemudian beliau menuju ke Palembang dan bersyiar dengan sahabat beliau Al Habib Alwi bin Syeikh Assegaf. Disitu beliau bertemu dengan ulama–ulama besar diantaranya Al Habib Abdullah bin Muchsin Alattas sekaligus guru beliau.

Pada umur 30 tahun beliau menuju Surabaya, Madiun, Jepara, Semarang, Pekalongan, Tegal, Cirebon, dan menikahi putri pondok pesantren “Buntet” K.H Abdullah Anshori, yang bernama Siti Jamilah binti Abdullah Anshori.

Pada umur 35 tahun berdakwah di Banten sampai usia 40 tahun, lalu menuju Jakarta dan bertemu dengan sahabat-sahabat beliau, diantaranya

Al Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi

Al Habib Ali bin Husein Alattas

Al Habib Salim bin Ahmad bin Jindan

Al Habib Sholeh bin Muchsin Al Hamid, Tanggul

Al Habib Alwi bin Muhammad Al Haddad, Tegal

Dan bermukim di Jakarta di Kebayoran Lama. Masa muda beliau di isi dengan berdakwah dan menuntut ilmu bersama Al Habib Abdullah bin Muchsin Alattas dan Al Habib Ustman bin Abdullah bin Aqil bin Yahya

Sampai beranjak umur 40 tahun beliau berdakwah atas perintah guru-guru beliau yang telah wafat.

Keramat Beliau
Satu diantaranya, beliau di kepung di zaman gerombolan perampok, lalu ditanya,”Siapa yang menyuruhmu kemari, Wahai orang yang berjenggot putih?”spontan beliau mengatakan “Allah”. Tiba-tiba gerombolan tersebut kaku bagaikan patung, yang akhirnya semua gerombolan tersebut taubat kepada Allah.

Perjumpaan dengan Nabi Khidir A.S
Suatu hari ada orang yang datang kepada beliau dengan pakaian compang camping lalu beliau berkata;”Selamat datang wahai Nabiyullah Khidir”. Dan memberi ijazah kepada beliau do’a sapu jagat sebanyak sebanyak 15.000 x setiap hari.

Perjumpaan beliau dengan Nabi Muhammad SAW
Suatu hari dikala beliau sedang berdakwah karena beliau menghafal Al Qur’an beliau bersemangat menerangkan isi Al Qur’an di perayaan Maulid, tiba-tiba beliau menjelaskan ayat yang berbunyi :

Setelah selesai ayat itu dibaca beliau menangis, dan ditanya murid beliau : “Mengapa Habib menangis?” beliau menjawab : “ didepanku ada Rasulullah SAW “.

Pada masa tua beliau tak lepas membaca manaqib Tuan Syeikh Abdul Qadir Zaelani, dan membaca Asmaul Husna. Yang akhirnya pada bulan Dzulhijjah (Idul Adha) tepat tanggal 10 hari kamis ba’da Ashar pada usia 99 tahun beliau menutup akhir hayatnya. Dengan sakit demam yang ringan. Terhembus dari lisan beliau kalimat terakhir “Laa ilaha illallah Muhammadurrasulullah”.

Pada tahun 1990 disholatkan di Bogor, yang dipimpin langsung oleh anak Habib Abdullah bin Muchsin Alatas yaitu Al Habib Husien bin Abdullah Alattas. Dan dikebumikan hari Jum’at di Cibedug Bogor, Jawa Barat.

“Disarikan oleh Al Habib Ja’far bin Umar Assegaf”

Manakib Al-Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi
Habib Muhammad Idrus Al-Habsyi

Habib Muhammad Idrus Al-Habsyi

Al-Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi atau nama lengkapnya Al-Habib Muhammad bin Idrus bin Muhammad bin Ahmad bin Ja’far bin Ahmad bin Zain Al-Habsyi, beliau lahir di kota Hauthah (khala’Rasyid) hadramaut pada tanggal 20 syawwal tahun 1265 H. Sebelum beliau lahir ayahnya Al-Imam Al-‘Arif Billah Al-Habib Idrus bin Muhammad Al-Habsyi telah berpergian ke Indonesia untuk berdakwah. Al-Habib Muhammad tidak sempat mengenal ayahnya bahkan tidak pernah melihatnya, karena ketika sang ayah wafat di Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat beliau belum lahir. Adapun ibunya Syaikhah Salamah binti Salim bin Abdullah bin Sa’ad bin Semir (Sumair).

Status sebagai anak yatim tidak berpengaruh kepada terhadap diri beliau, karena ibunya dengan penuh kesabaran mendidiknya dan tidak menikah lagi. Di tambah lagi asuhan dan perhatian dari para pamannya, terutama Al-Habib Sholeh bin Muhammad Al-Habsyi yang menjadi munshib Al-Habsyi di negerinya, beliau dibesarkan dalam didikan pamannya ini sehingga mengikuti jalan dan perilakunya.

Sebelum genap berusia tujuh tahun, beliau telah mulai mempelajariAl-Qur’an kepada mu’allim Ali Syuwa’i pada tempat pengajian umum di Hauthah. Kemudian beliau menghatamkannya pada Syaikh Ahmad Al-Baiti, munsyid di kubah datuknya, sayyidina Ahmad bin Zain Al-Habsyi. Dalam perjalanan menuntut ilmunya beliau mengerahkan seluruh segala kemampuannya untuk belajar baik ketika masih di Hauthah maupun di berbagai tempat lain di Hadramaut. Disebagian tempat beliau menetap dalam waktu lama dan di sebagian yang lain beliau hanya tinggal beberapa saat. Al-Ghorfah, Sewun, Tarim, Syibam dan Du’an adalah sebagian diantara kota-kota yang didatanginya.

Selain mempelajari Al-Qur’an, sejak kecil beliau juga belajar ilmu fiqih, hadits, tafsir, tasawwuf, nahwu, sharaf, dan sebagainya. Di dalam Qurrah al-‘Ain disebutkan, di antara kitab-kitab yang dibacanya pada pamannya, Al-Habib Sholeh dan pamannya yang lain Al-Habib Abdullah, adalah kitab Ar-Risalah Al-Jami’ah karya datuknya Al-Habib Ahmad bin Zain, Bidayah Al-Hidayah dan umdah as-Salik dalam fiqih, Al-Jurummiyah dan Al-Mutammimah dalam nahwu. Kepada gurunya Al-Habib Abdullah bin Thoha Al-Haddar Al-Haddad, beliau belajar membaca kitab Fathul-Mu’in, rujukan sangat penting dalam fiqih syafi’i.
Guru-gurunya yang lain dalam fiqih dan tasawwuf adalah Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, Al-Habib Idrus bin Umar Al-Habsyi, Al-Habib Idrus bin Abdul Qadir bin Muhammad Al-Habsyi, Al-Habib Muhsin bin Alwi Assegaf, Al-Habib Hasan bin Husein bin Ahmad Al-Haddad, dan lain-lain. Di antara semua gurunya yang menjadi syaikh fath (guru pembukanya) adalah Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi.
Sejak kecil beliau sering didoakan dan diilbas (dikenakan pakaian, yang tujuannya sebagai pengangkatan atau pengakuan) oleh para alim ulama. Muridnya, Al-Allamah As-Sayyid Abdullah bin Thahir Al-Haddad mengatakan dalam kitab qurrah Al-‘Ain bahwa, di antara yang mendoakan dan meng-ilbas-nya adalah Al-Habib Hasan bin Sholeh Al-Bahr seorang ulama terkemuka. Banyak gurunya yang telah melihat kelebihannya sejak kecil. Mereka telah melihat tanda-tanda kewalian pada dirinya.
Tahun 1281 H, pada usia 16 tahun beliau menunaikan haji untuk pertama kalinya dengan menaiki kapal dagang yang menuju ke Jeddah. Setelah itu kembali ke negerinya, Hauthah. Tetapi hanya beberapa bulan berada di tengah-tengah keluarganya, setelah itu belaiu kembali lagi ke Hijaz untuk menunaikan haji yang kedua, setelah musim haji selesai beliau tidak pulang melainkan menetap di Haramain dan menimba ilmu kepada para ulama.
Di antara para gurunya di Haramain adalah sayyid Fadhl bin Alwi bin Alwi bin Muhammad bin Sahl maulad Dawileh (yang kemudian menjadi tokoh habaib di Turki, Al-Allamah Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, mufti syafi’I di Makkah, Al-Allamah Sayyid Umar bin Abdullah Al-Jufri, dan Al-Allamah Asy-Syaikh Muhammad bin Muhammad Al-‘Azab, beliau juga mendalami tajwid kepada sayyid Muhammad An-Nuri.
Kemudian takdir Allah menentukan beliau untuk pergi ke India, tetapi karena hatinya merasa tak tenang tinggal disana akhirnya beliau menuju singapura dalam perjalannya di jawa. Selama beberapa tahun beliau tinggal di Jakarta menggeluti perdagangan di samping belajar kepada Al-Allamah Al-Habib Ahmad bin Muhammad bin Hamzah Al-Attas, Al-Allamah Al-Habib Umar bin Hasan Al-Jufri dan sejumlah tokoh ulama lainnya.
Demikianlah terus berlanjut sampai Allah melimpahinya cahaya ilmu dan kewalian yang membuatnya terkenal dimana-mana, maka berdatanganlah orang-orang yang ingin belajar dan mendapatkan manfaat darinya dari berbagai tempat di antaranya Al-Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhar, Al-Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi, Al-Habib Thahir bin Alwi Al-Haddad, Al-Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf.
Ahklak dan budi pekertinya sangatlah baik, beliau adalah seorang yang pemurah dan berkasih sayang terhadap orang lain, apalagi kepada orang-orang yang lemah, apa-apa yang Allah berikan kepadanya tidak segan-segan beliau memberikannya kepada siapa saja yang mendatanginya, beliau seorang yang murah senyum, lemah lembut tutur katanya dan sangat baik sambutannya, itulah perangainya meneladani perangai datuknya, Nabi Muhammad SAW. Setiap orang yang duduk di sampingnya akan merasa bahwa dirinyalah yang paling dicintai dan dipilihnya sebagai sahabat karib.
Ayah bagi orang miskin
Apabila ada orang bertamu kepadanya, beliau selalu bertanya tentang hal-ihwal anak-anak dan cucu-cucu orang tersebut, demikian juga dengan tamu dari luar kota, beliau menyambutnya dengan ramah dan senang hati, bahkan apabila yang datang fakir miskin, beliau memberikan ongkos pulang disertai hadiah untuk anak-istrinya. Inilah kebiasaan selama hidupnya. Rumahnya selalu terbuka untuk para tamu dan pernah kosong dari mereka. Terlebih lagi fakir miskin yang tidak mempunyai penghasilan yang menentu mereka menginap dirumahnya.
Anak-anak yatim yang dipelihara olehnya menilainya lebih baik dari ayah-ayah mereka karena beliau menyamakan mereka dengan anak-anaknya sendiri dalam memberikan pakaian, makanan, minuman dan tempat tidur. Ketika anak-anak yatim itu telah besar beliau juga mengurus perkawinan mereka dam memberikan apa-apa yang mereka butuhkan. Tidak mengherankan apabila dikatakan bahwa beliau adalah ayah bagi anak-anak yatim dan orang-orang miskin.
Beliau pun sangat dicintai oleh masyarakat umum maupun kalangan khusus, beliau selalu mendamaikan pihak-pihak yang bertengkar walaupun masalahnya besar dan sulit dapat beliau selesaikan dengan baik. Di antara amal jariyahnya adalah pembangunan masjid di purwakarta, Masjid Ar-Raudhah di jombang, dan lain-lain. Beliau juga adalah perintis penyelenggaraan haul para wali Allah dan orang-orang sholeh. Dialah yang pertama kali mengadakan haul Al-Imam Al-Habib Muhammad bin Thohir Al-Haddad yng terkenal di kota Tegal. Beliau juga banyak berziarah ke tempat bersejarah, makam para wali dan orang-orang sholeh dan kegiatan itu pula diikuti oleh khalayak ramai. Semasa hidupnya beliau rajin berdakwah ke beberapa daerah, dalam perjalanan dakwahnya beliau tidak pernah menginap di hotel atau tempat penginapan lain, melainkan di rumah salah satu seorang habib.
Pada setiap hari kamis bulan Rabi’ul Awwal, beliau mengadakan pembacaan maulid Nabi seperti yang dilakukan oleh gurunya Al-Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi di Sewun. Beliau melaksakannya di daerah jatiwangi dekat Cirebon. Lalu memindahkannya ke Bogor sampai timbul rintangan-rintangan dan fitnah dari orang-orang yang dengki. Kemudian beliau memindahkannya lagi ke Surabaya dengan bantuan kapten Arab dari keluarga Boubseith. Demikianlah hal itu berlangsung terus sampai beliau wafat. Sepeninggalnya yang meneruskan adalah Al-Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi di Jakarta di sekolah jamiat kheir, setelah meminta izin kepada para pengurusnya. Maulid ini berlangsung terus sejak tahun 1338 H/1920 M sampai tahun 1355 H/1936 M (17 tahun). Ketika Al-Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi membangun masjidnya di Kwitang ia pun memindahkan gelaran maulid ke masjid itu pada tahun 1356 H/1937 M.
Menjelang wafatnya, Habib Muhammad menyampaikan wasiat, “Aku wasiatkan kepada kalian agar selalu ingat kepada Allah SWT, semoga Dia menganugerahkan keberkahan kepada kalian dalam menegakkan agama terhadap istri, anak, dan para pembantu rumah tangga. Hati-hatilah, jangan menganggap remeh masalah ini, karena seseorang kadang mendapat musibah disebabkan orang-orang yang dibawah tanggungannya yaitu istri, anak, dan pembantu. Sebab, dia adalah pemegang kendali rumah tangga.”
Beliau wafat pada malam rabu 12 Rabi’uts Tsani 1337 H di Surabaya, dimakamkan pada waktu Ashar hari Rabu. Yang mengimami shalat jenazah tokoh besar ini adalah tokoh besar juga yang sekaligus juga menantunya Al-Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhar.

Manaqib al-Imam al-Habib ‘Abdullah bin ‘Alwi bin Muhammad al-Haddad رضي الله عنه

Manaqib al-Imam al-Habib ‘Abdullah bin ‘Alwi bin Muhammad al-Haddad رضي الله عنه
Sempena Majlis Haul al-Imam al-Habib ‘Abdullah al-Haddad tahun 1430H, maka ambo ingin berkongsi sekelumit manaqib beliau رضي الله عنه. Manaqib serba ringkas ini sebenarnya dah pun ambo paparkan diblog al-Fanshuri sewaktu menceritakan pengalaman ziarah ke Hadramaut. Cuma yang ini, ambo tambah mana yang kurang. Untuk lebih mengenali beliau رضي الله عنه, bacalah kitab-kitab karangannya.

Nasabnya yang mulia: al-Habib Abdullah bin ‘Alawi bin Muhammad bin Ahmad bin Abdullah bin Muhammad al-Haddad bin ‘Alawi bin Ahmad bin Abi Bakar bin Ahmad bin Abi Bakar al–Thowil bin Ahmad bin Muhammad bin Abdullah bin al-Faqih Ahmad bin ‘Abdurrahman bin ‘Alawi bin Muhammad Shahib Mirbath bin ‘Ali bin ‘Alwi Khali’ Qasam bin Muhammad bin ‘Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir bin ‘Isa al-Rumi bin Muhammad an-Naqib bin ‘Ali al-Uraidhi bin Ja’far ash-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin ‘Ali Zain al-‘Abidin bin al-Hussin al-Sibth bin ‘Ali suami Fathimah al-Zahra’ binti Muhammad Rasulullah صلى الله عليه وسلم.

Al-Imam Al-Habib Abdullah bin ‘Alawi bin Muhammad bin ‘Ali al-Haddad رضي الله عنه diputerakan pada malam Itsnain 5 Shafar 1044H (30 Julai 1634M). [ada riwayat yang mengatakan bahwa beliau رضي الله عنه dilahirkan pada malam Khamis 5 Shafar 1044H sebagaimana disebut oleh Thoha bin Hasan bin 'Abdurrahman as-Seggaf]. Ini sebagaimana disebutkan oleh Syaikh ‘Ahmad bin ‘Abdul Karim al-Hasawi as-Sajjar didalam kitab yang bertajuk Tatsbitul Fuad bi Zikri Kalam Majalis al-Quthub al-Imam ‘Abdullah bin ‘Alawi bin Muhammad al-Haddad, beliau berkata: Beliau رضي الله عنه berkata:

Kami telah menghafaz tarikh kelahiran kami daripada ibu kami. Ibuku berkata: Aku dilahirkan pada malam Itsnain, tanggal 5 Safar, tahun 1044H. Beliau رضي الله عنه bercerita lagi: Seorang jiran wanita membungkusku dengan pakaian ayahku. Malam itu aku menangis dan menjerit-jerit sampai pagi. Lalu ibuku berkata kepada sebahagian wanita yang berada didalam rumah: Cuba engkau lihat, apa terjadi kepada anakku, kenapa dia tidak mahu diam. Wanita itu kemudian memeriksa kain yang membalutku. Ternyata didalamnya terdapat seekor kala jengking yang sangat besar. Badanku merah-merah kerana sengatannya [dalam setengah riwayat mengatakan lebih dari 20 sengatan].

Beliau didlahirkan disebuah perkampungan bernama Subair yang terletak berhampiran dengan kota Tarim di Wadi Hadhramaut, di Selatan Yaman. Beliau membesar didalam lingkungan keluarganya yang terkenal dengan kesholehan.

Ayahnya Habib ‘Alawi bin Muhammad al-Haddad, sejak kecil berada di bawah asuhan ibunya Hababah Salwa, yang dikenal sebagai wanita ahli ma’rifah dan wilayah. Bahkan al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad رضي الله عنه sendiri banyak meriwayatkan kekeramatan ayahnya. Datuk al-Habib Abdullah al-Haddad dari sebelah ibunya Habib Umar bin Ahmad al-Manfar Ba’Alawi yang termasuk ulama yang mencapai darjat ma’rifah yang sempurna. Imam al-Haddad رضي الله عنه meriwayatkan sekitar 45 karamah yang dimilikinya.

Imam al-Haddad رضي الله عنه mendapat didikan awal dari ayahandanya Habib ‘Alawi bin Muhammad al-Haddad dan ibundanya Hababah Salma binti Idrus bin Ahmad bin Muhammad al-Habsyi .

Ketika umurnya 4 tahun, beliau رضي الله عنه telah diserang penyakit cacar hingga menyebabkan beliau buta kedua matanya. Walaubagaimanapun matahati terang benderang. Sewaktu kecilnya beliau tidak menghabiskan masanya dengan bermain sebagaimana anak kecil sebayanya. Beliau رضي الله عنه menghabiskan waktunya dengan menghafal al-Quran, bermujahadah an-Nafs dengan mengerjakan banyak ibadah dan mencari ilmu.

Ayahnya, al-Habib ‘Alawi bin Muhammad al-Haddad wafat pada malam itsnain awal bulan Rajab 1072H. Kemudian disusuli pula oleh ibunya iaitu pada hari Rabu, tanggal 24 Rajab 1072H. Ketika itu Imam al-Haddad sudah berumar 28 tahun.

Guru-gurunya: Diantara guru-guru beliau رضي الله عنه adalah:

al-Habib Muhammad bin ‘Alawi bin Abu Bakar bin Ahmad bin Abu Bakar bin ‘Abdurrahman al-Saqqaf (1002 – 1071H)
Syaikh Abu Bakar bin bin Imam ‘Abdurrahman bin ‘Ali bin Abu Bakar bin Syaikh ‘Abdurrahman al-Saqqaf
al-Habib ‘Aqil bin ‘Abdurrahman bin Muhammad bin ‘Ali bin ‘Aqil bin Syaikh Ahmad bin Abu Bakar bin Syaikh bin ‘Abdurrahman al-Saqqaf
al-Habib ‘Umar bin ‘Abdurrahman al-‘Atthas bin Aqil bin Salim bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Abdurrahman al-Saqqaf (wafat:1072H).
al-Habib ‘Abdurrahman bin Syaikh Maula ‘Aidid Ba’alawi (wafat: 1068H)
Sayyid Syaikhan bin Imam al-Hussein bin Syaikh Abu Bakar bin Salim
al-Habib Syihabuddin Ahmad bin Syaikh Nashir bin Ahmad bin Syaikh Abu Bakar bin Salim
al-Habib Jamaluddin Muhammad bin Abdurrahman bin Muhammad bin Syaikh al-Arifbillah Ahmad bin Syaikh al-Hussein bin Syaikh al-Quthb al-Rabbani Abu Bakar bin Abdullah al-‘Aydrus (1035-1112H)
Sayyid al-Faqih al-Shufi Abdullah bin Ahmad Ba`alawi al-Asqa’
Sayyid Syaikh al-Imam Ahmad bin Muhammad al-Qusyasyi (wafat 1071H)
Khirqah Sufiyah: Imam al-Haddad رضي الله عنه menerima khirqah sufiyyah, antaranya daripada:

al-Habib ‘Aqil bin ‘Abdurrahman bin Muhammad bin ‘Ali bin ‘Aqil bin Syaikh Ahmad bin Abu Bakar bin Syaikh bin ‘Abdurrahman al-Saqqaf,
al-Habib ‘Umar bin ‘Abdurrahman al-‘Atthas bin Aqil bin Salim bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Abdurrahman al-Saqqaf (wafat:1072H),
al-Habib Syihabuddin Ahmad bin Syaikh Nashir bin Ahmad bin Syaikh Abu Bakar bin Salim,
al-‘Arifbillah Syaikh Muhammad bin ‘Alawi as-Saqqaf al-Makki
Beliau adalah merupakan Quthub al-Aqtab pada zamannya. Dan ada ulama mengatakan bahwa beliau رضي الله عنه menduduki makam tersebut hampir 60 tahun.

Murid-muridnya: Murid-murid beliau, antaranya:-

al-Habib Hasan bin ‘Abdullah al-Haddad (anak beliau);
al-Habib Ahmad bin Zein al-Habsyi;
al-Habib ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah Balfaqih;
al-Habib Muhammad bin Zein bin Smith;
al-Habib ‘Umar bin Zein bin Smith;
al-Habib ‘Umar bin ‘Abdurrahman al-Bar;
al-Habib ‘Ali bin ‘Abdullah bin Abdurrahman al-Saqqaf;
al-Habib Muhammad bin ‘Umar bin Thoha ash-Shafi al-Saqqaf;
Syaikh Ahmad bin Abdul Karim al-Hasawi asy-Syajjar
Al-Faqih BaJubair – beliau adalah merupakan guru kepada Imam al-Haddad dalam ilmu fiqih namun setelahnya ulama ini bellajar kitab Ihya kepada Imam al-Haddad. Imam al-Haddad berkata: Setelah kembali ke Hadramaut (dari India) dia belajar Ihya kepadaku. Aneh sekali! Dahulu aku belajar fiqih kepadanya, namun sekarang dia belajar ihya kepadaku.
dan ramai lagi
Penulisan: Beliau رضي الله عنه mula menulis ketika berumar 25 tahun dan karya terakhir beliau ditulis pada ketika usianya 86 tahun. Karya al-Habib Abdullah bin ‘Alawi al-Haddad, antaranya:-

Risalah al-Muzaakarah ma’a al-Ikhwan al-Muhibbin min Ahl al-Khair wa ad-Din (رسالة المذاكرة مع الإخوان المحبين من أهل الخير والدين) – kitab ini selesai ditulis pada hari Ahad sebelum waktu Dhuhur, akhir bulan Jumadilawwal 1069H.
Risalah al-Mu’aawanah wa al-Mudzaaharah wa al-Mu`aazirah li ar-Raghibin minal Mu’minin fi Suluki Thoriqil Akhirah (رسالة المعاونة والمظاهرة والمؤازرة للراغبين من المؤمنين في سلوك طريق الأخرة) – kitab ini selesai ditulis pada tahun 1069H, sewaktu beliau berusia 26 tahun. Dan ditulis atas permintaan Habib Ahmad bin Hasyim al-Habsyi.
Risalah Aadab Suluk al-Murid (رسالة آداب سلوك المريد) – kitab ini selesai penulisannya pada tanggal 7 atau 8 Ramadhan, tahun 1071H.
Ithaf as-Saail bi Jawaab al-Masaail (إتحاف السائل بجواب المسائل) – kitab ini adalah merupakan kumpulan jawaban atas pelbagai persoalan yang diajukan kepada beliau oleh Syaikh ‘Abdurrahman Ba’Abbad asy-Syibaami. Dan ianya ditulis sewaktu Imam al-Haddad berkunjung ke Dau’an pada tahun 1072H. Kitab ini mengandungi 15 pertanyaan dengan jawaban dan ulasan yang mendalam dari Imam al-Haddad. Selesai ditulis pada hari Jum’at, 15 Muharram 1072.

An-Nashoih ad-Diniyah wa al-Washoya al-Imaniyah (النصائح الدينية والوصايا الإيمانية) – kitab ini beliau tulis pada usia 45 tahun. Selesai ditulis pada hari Ahad, 22 Sya’ban 1089H. Kitab ini mendapat pujian dari para ulama kerana ianya merupakan suatu ringkasan daripada Ihya. Kata-kata di dalam kitab ini mudah, kalimatnya jelas, perbahasannya sederhana dan disertai dengan dalil yang kukuh. Sesuai dibaca oleh orang awwam dn juga khawas.
Sabil al-Iddikar wa al-I’tibaar bima Yamurru bi al-Insan wa Yanqadhi lahu min al-’A’maar (سبيل الإدكار والا عتبار بما يمر بالإنسان وينقضي له من الأعمار) – terdapat perbedaan pendapat mengenai usia Imam Haddad menulis kitab ini. Ada yang mengatakan pada ketika beliau berusia 60 tahun (1104H) atau 63 tahun (1107H). Dan ada yang mengatakan kitab ini diselesaikan pada hari Ahad 29 Sya’ban 1110H. Kitab ini membahaskan mengenai fasa-fasa hidup manusia.

Ad-Da’wah at-Tammah wa at-Tazkirah al-‘Ammah (الدعوة التامة و التذكرة العامة) – kitab ini diselesaikan oleh Imam al-Haddad pada usia beliau 70 tahun. Selesai ditulis pada pagi Jum’at 27 atau 28 Muharram 1114H.
An-Nafais al-‘Uluwiyyah fi al-Masaail as-Shufiyyah (النفائس العلوية في المسائل الصوفية) – kitab ini selesai ditulis pada hari Khamis, bulan Dhulqaedah 1125H. Usia Imam al-Haddad pada ketika ini adalah 81 tahun. Kitab ini membahaskan masalah yang berkaitan dengan shufi.

Al-Fushul al-‘Ilmiyyah wa al-Ushul al-Hikamiyah (الفصول العلمية والأصول الحكمية) – kitab ini selesai ditulis pada 12 Shafar 1130H iaitu ketika Imam al-Haddad berusia 86 tahun iaitu 2 tahun sebelum kewafatan beliau.

Kitab al-Hikam (كتاب الحكم )

Mukhatabat wa Washoya ( مكاتبات و وصايا )
Wasilah al-‘Ibaad ila Zaad al-Ma’aad (وسيلة العباد إلى زاد المعاد);
Ad-Durr al-Mundzum li Zaawil ‘Uqul wa al-Fuhuum (الدر المنظوم لذوي العقول والفهوم);
Tastbitul Fuad ( تثبيت الفؤاد)- dikumpul oleh murid beliau Syaikh Ahmad bin Abdul Karim al-Hasawi asy-Syajjar)
Kebanyakkan karya beliau telah diterjemahkan ke bahasa Inggeris , Perancis dan juga bahasa Indonesia dan Malaysia.

Ibadahnya: Beliau رضي الله عنه sangat bersungguh-sungguh didalam mengerjakan ibadah dan mujahadah an-Nafs sedari usianya masih kanak-kanak. Pada bidayahnya beliau mengunjungi seluruh masjid di kota Tarim untuk beribadah. Beliau sentiasa berjaga malam untuk mengerjakan ibadah. Hampir 40 tahun beliau bersholat shubur dengan wudhu` sholat ‘Isya`. Banyak berzikir dan membaca al-Quran. Biji tasbihnya berjumlah 1000 biji. Beliau menunaikan ibadah haji pada tahun 1079H, iaitu ketika berusia 35 tahun. Beliau juga mengambil kesempatan tersebut untuk bertemu para ulama di Haramain.

Akhlaqnya: Akhlaqnya mencontohi akhlaq datuknya, Rasulullah صلى لله عليه وآله وسلم samaada pada perkataan atau perbuatannya. Terkenal sebagai seorang yang pemurah. Sentiasa manis bibirnya dengan senyuman dan menngembirakan orang lain. Sangat memberi perhatian kepada penuntut ilmu dan majlis ilmu. Membalas kejahatan dengan kebaikan. Sangat wara’ dalam perkara-perkara syubhat. Kalau memberi upah beliau akan memberi lebih tinggi daripada yang diharapkan. Beliau رضي الله عنه juga adalah seorang yang sangat menyayangi kaum faqir miskin. Beliau pernah berkata: Andaikata aku berupaya atau mampu, tentu akan aku penuhi keperluan semua kaum miskin, sebab pada awalnya, agama ini ditegakkan oleh kaum mu’minin yang lemah. Beliau juga berkata: Dengan sesuap makanan tertolaklah berbagai bencana.

Beliau رضي الله عنه seorang yang tidak menyukai kemasyhuran atau kemegahan dan tidak suka dipuji. Beliau berkata: Banyak orang membuat syair-syair untuk memujiku. Sesungguhnya aku hendak mencegah mereka, tetapi aku khuatir tidak ikhlas dalam berbuat demikian. Maka kubiarkan mereka berbuat sekehendaknya. Dalam hal ini aku lebih suka meneladani Nabi صلى الله عليه وآله وسلم kerana Baginda pun tidak melarang ketika shahabat Baginda membacakan syair-syair pujian kepada Baginda.

Oleh kerana beliau رضي الله عنه seorang khumul, menghindari syuhrah (kemasyhuran), sangat tidak suka orang membicarakan karamahnya maka beliau pernah memerintahkan muridnya melupuskan (dengan menghanyutkan kesungai) 2 jilid kitab disusun yang menyebut tentang karamahnya. Dan beliau selalu mennashihati muridnya untuk tidak melakukan ibadah untuk mendapatkan karamah.

Beliau رضي الله عنه juga suka mendirikan masjid, antara yang dibinanya adalah Masjid al-Awwabin, Masjid al-Abrar, Masjid al-Abdal, Masjid al-Fath, Masjid at-Tawwabin dan Masjid Ba’Alawi di Basyon.

Karamahnya: Al-Habib ‘umar bin Zain bin Sumaith mengatakan bahwa seorang waliyullah yang hidup sezaman dengan al-Imam ‘Abdullah bin ‘alawi al-Haddad dan bermuqim di Mekah – sehari setelah kewafatan Imam al-Haddad – telah memberitahu kepada sejumlah orang di Mekah bahwa semalam Imam al-Haddad telah wafat. Ketika ditanya, darimana waliyullah itu tahu hal tersebut, maka beliau menjawab: Tiap hari siang dan malam, saya melihat beliau (Imam al-Haddad) selalu datang thawaf Ka’bah (padahal Imam al-Haddad berada di Tarim). Hari ini aku tidak melihatnya lagi, kerana itu aku mengetahui bahwa beliau sudah wafat.

Pujian Ulama Keatasnya: Mufti Hadhramaut, Habib ‘Abdur Rahman bin Muhammad bin Husain bin ‘Umar al-Masyhur Ba ‘Alawi dalam Ghaayatu Talkhish al-muraad min fatawa Ibni Ziyaad menyatakan bahawa Imam a-Haddad رضي الله عنه adalah merupakan mujaddid kurun ke-11H. Pada halaman 293 – 294 di pinggir Bughyatul Mustarsyidin, beliau menyatakan:- [Masalah] Hadits “Bahawasanya Allah akan membangkitkan buat umat ini pada awal setiap 100 tahun orang yang akan memperbaharui (mentajdidkan) agama umat ini (yakni yang akan memperbaharui pegangan dan keyakinan umat terhadap agama mereka),” dikeluarkan hadits ini oleh Imam Abu Dawud dan Imam al-Hakim dan selain kedua mereka. Dan dalam lafaz lain dinyatakan “Pada setiap 100 tahun seorang lelaki daripada ahli baitku,” sebagaimana dinyatakan oleh Imam Ahmad. Berkata Imam as-Sayuthi, hadits ini adalah masyhur dengan diriwayatkan oleh para hafiz yang muktabar. Maka mujaddid bagi:-

Kurun pertama: Sayyidina ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz;
Kurun ke-2: Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi`i;
Kurun ke-3: Ibnu Suraij atau al-Asy’ari;
Kurun ke-4: ash-Sha’luki atau Abu Hamid al-Isfaraini atau Qadhi Abu Bakar al-Baaqilani;
Kurun ke-5: Imam al-Ghazali tanpa ada khilaf;
Kurun ke-6: al-Fakhrur Razi atau ar-Rifaa`i;
Kurun ke-7: Ibnu Daqiiqil ‘Eid;
Kurun ke-8: al-Bulqini dan Zainuddin al-’Iraqi atau Ibnu Bintil Mailaq;
Kurun ke-9: Syaikh Zakaria al-Anshari sebagaimana dinyatakan oleh guru kami ath-Thanbadaawi dan adalah Imam asy-Sayuthi telah menisbahkan tajdid kepada dirinya (yakni menyatakan dirinya sebagai mujaddid), dan tiada syak bahawa Syaikh Zakaria lebih memberi manfaat (buat umat) dan lebih masyhur, maka dialah mujaddid ke-9 ini, insya-Allah;
Kurun ke-10: yang aku jumpa daripada keterangan para masyaikh bahawa mujaddid kurun ini ialah Syaikh Ahmad bin Hajar al-Haitami atau Imam Muhammad ar-Ramli, dan dirajihkan oleh sebahagian ulama bahawa mujaddidnya ialah Imam Muhammad ar-Ramli kerana Imam Ibnu Hajar meninggal sebelum berlalu kurun (yakni Imam Ibnu Hajar meninggal di akhir kurun dan tidak bertemu dengan awal kurun yang baru);
Kurun ke-11: Sayyidinal Quthub ‘Abdullah bin ‘Alawi al-Haddad ‘Alawi;
Kurun ke-12: al-Quthub Ahmad bin ‘Umar bin Sumaith Alawi. [petikan dari blog Ustaz Abu Muhammad - Bahrusshofa]

Seorang ulama menggambarkan kedudukan beliau dengan ungkapan: Didalam dunia tasawwuf Imam al-Ghazali ibarat pemintal kain, Imam ‘Abdul Wahab asy-Sya’rani ibarat tukang potong dan al-Habib Abdullah bin ‘Alawi al-Haddad adalah penjahitnya.

Syaikh Hussin bin Muhammad BaFadhal al-Makki (wafat 1087H) mengatakan: Bahwa ada 3 tokoh pada masanya. Pertama, yang halnya menutupi maqalnya iaitu Al-Habib Muhammad bin ‘Alwi al-Saqqaf (mufti Mekah), kedua yang maqalnya menutupi halnya iaitu Syaikh Ahmad al-Qusyasyi (mufti Madinah, wafat 1071H), dan ketiga, yang sampai pada darjah sempurna diantara hal dan maqalnyanya itu al-Imam al-Habib ‘Abdullah bin ‘Alawi al-Haddad. Syaikh Hussin baFadal juga mengatakan: Dia (Imam al-Haddad) adalah lautan bathin dan dzahir.

Al-Habib Abu Bakar al-Jufri (wafat 1089H) mengatakan: Aku telah berkumpul dengan lebih dari 40 orang waliyullah, tetapi aku tidak pernah mneyaksikan seperti Sayyid ‘Abdullah al-Haddad, dan tidak ada pula yang mengunggulinya. Dia ialah Nafas Rahmani.

Kewafatannya: Khamis 27 Ramadhan 1132H, beliau mula sakit dan sakitnya berlanjutan selama 40 hari sampai akhirnya pada malam Selasa 7 Dzulqaedah 1132H (bersamaan 10 September 1720M), al-Habib Abdullah bin ‘Alawi bin Muhammad bin ‘Ali al-Haddad رضي الله عنه dijemput Allah kehadratNya ketika berusia 89 tahun. Makam beliau رضي الله عنه terletak di kawasan pemakaman Zanbal, di kota Tarim. Semoga Allah melimpahkan rahmatNya kepada ruhnya dan memberi manfaat kepada kita dengan ilmu-ilmunya

اَلَّلهُمَّ انْشُرْنَفَحَاتِ الِّرضْوَانِ عَلَيْهِ، وَأَمِدَّنَا بِالأَسْرَارِ الَّتِي أَوْدَعْتَهَالَدَيْهِ. اَلَّلهُمَّ صَلِّ عَلىَ جَدِّهِ النَّبِيِّ الأَمِيْنَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعْيْنَ

Ya Allah! Sebarkanlah hembusan keredhaanMu ke atasnya dan limpahkanlah ya Allah, kepada kami segala rahsia yang Engkau simpan disisinya. Ya Allah! Kurniakanlah rahmat dan kesejahteraan keatas nendanya, Nabi al-Amin, penghulu kami Muhammad صلى الله عليه وآله وسلم dan keatas keluarga dan shahabat-shahabatnya sekalian

الفاتحة إلى حضرة النبي محمد صلى الله عليه وآله وسلم وإلى روح سيدنا قطب الإرشاد وغوث العباد والبلاد الحبيب عبد الله بن عاوي بن محمد الحداد وأصوله وفروعهم أن الله يعلي درجاتهم في الجنة ويكثر من مثوباتهم ويضاعف حسناتهم ويحفظنا بجاههم وينفعنابهم ويعيد علينا من بركاتهم وأسرارهم وأنوارهم وعلومهم ونفحاتهم في الدين والدنيا والآخرة – الفاتحة

Sebagai mengakhiri manaqib ringkas Imam al-Haddad, ambo bawakan sepotong nashihat beliau yang sangat berharga untuk panduan kita ….. dari himpunan syair beliau berjudul ad-Durrul Mandzum yang ambo petik dari blog Ustaz Abu Muhammad (Bahrusshofa)

Jika kau ingin hidup bahagia sepanjang umurmu dan setelah mati, kuburmu dijadikan taman syurga;

Dan engkau dibangkitkan tatkala tiupan sangkakala dalam keadaan aman dari rasa takut, terancam, terusir dan dari kerugian;

Dan dihadapkan (kepada Allah) dalam kemuliaan dan keagungan, diberi khabar gembira oleh para malaikat dengan kejayaan dan ganjaran pahala;

Dan diberatkan timbangan amalanmu dengan amalan-amalan yang menggembirakan engkau di Padang Mahsyar;

Dan engkau melintasi sepantas kilat titian ash-Shirath, serta meneguk minuman dari telaga Nabi al-Mustofa yang suci;

Dan hidup kekal dalam syurga-syurga yang tinggi penuh keni’matan, mendapat bahagian untuk dekat dengan Tuhan yang Satu, Maha Esa dan Tunggal;

Dan engkau melihatNya dengan matamu dalam keadaan Dia Maha Suci dari bertempat, dari kaifiyyat, dari had dan batasan;

Maka perelokkan keyakinanmu, kerana sesungguhnya apabila keyakinan telah sempurna, yang ghaib akan nampak nyata tanpa diengkari;

Dan jadikanlah Asy’ariyyah sebagai pegangan i’tiqadmu, kerana sesungguhnya ia adalah sumber minuman yang suci bersih dari penyimpangan dan kekufuran;

Dan telah menyusun Quthubul Imam sandaran kita, ‘aqidahnya yang merupakan penawar bagi segala marabahaya;

Dan orang yang kumaksudkan dengannya itu ialah satu-satunya yang disifatkan dengan gelaran Hujjatul Islam (yakni Imam al-Ghazali رحمه الله ), maka sudah sepatutnya engkau berasa bangga.

al-fanshuri-kenaliulama.blogspot.com

Explore posts in the same categories: Mutiara kalam Al-Imam Abdullah bin Alwi Alhaddad

Habib Abdul Qadir bin Bilfaqih Al-Alawi, Hafal Ribuan Hadis

Di Kota Bunga, Malang, Jawa Timur, ada seorang auliya’ yang terkenal karena ketinggian ilmunya. Ia juga hafal ribuan hadits bersama dengan sanad-sanadnya.

Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih Al-Alawi dilahirkan di kota Tarim, Hadramaut, pada hari Selasa 15 Safar tahun 1316 H/1896 M. Saat bersamaan menjelang kelahirannya, salah seorang ulama besar, Habib Syaikhan bin Hasyim Assegaf, bermimpi bertemu Sulthanul Auliya’ Syekh Abdul Qadir Jailani. Dalam mimpi itu Syekh Abdul Qadir Jailani menitipkan kitab suci Al-Quranul Karim kepada Habib Syaikhan bin Hasyim Assegaf agar diberikan kepada Habib Ahmad bin Muhammad Bilfagih.

Pagi harinya Habib Syaikhan menceritakan mimpinya kepada Habib Ahmad. Habib Ahmad mendengarkan cerita dari Habib Syaikhan, kemudian berkata, ”Alhamdulillah, tadi malam aku dianugerahi Allah SWT seorang putra. Dan itulah isyarat takwil mimpimu bertemu Syekh Abdul Qadir Jailani yang menitipkan Al-Quranul Karim agar disampaikan kepadaku. Oleh karena itu, putraku ini kuberi nama Abdul Qadir, dengan harapan, Allah SWT memberikan nama maqam dan kewalian-Nya sebagaimana Syekh Abdul Qadir Jailani.”

Demikianlah, kemudian Habib Ahmad memberi nama Abdul Qadir karena mengharap berkah (tafa’ul) agar ilmu dan maqam Abdul Qadir seperti Syekh Abdul Qadir Jaelani.

Sejak kecil, ia sangat rajin dan tekun dalam mencari ilmu. Sebagai murid, ia dikenal sangat cerdas dan tangkas dalam menerima pelajaran. Pada masa mudanya, ia dikenal sebagai orang yang mempunyai perhatian besar terhadap ilmu dan menaruh penghormatan yang tinggi kepada guru-gurunya. Tidaklah dinamakan mengagungkan ilmu bila tidak memuliakan ahli ilmu, demikian filosofi yang terpatri dalam kalbu Habib Abdul Qadir.

Pernah suatu ketika di saat menuntut ilmu pada seorang mahaguru, ia ditegur dan diperingatkan, padahal Habib Abdul Qadir waktu itu pada pihak yang benar. Setelah memahami dan mengerti bahwa sang murid berada di pihak yang benar, sang guru minta maaf. Namun, Habib Abdul Qadir berkata, ”Meskipun saya benar, andaikan Paduka memukul muka hamba dengan tangan Paduka, tak ada rasa tidak menerima sedikit pun dalam diri hamba ini.” Itulah salah satu contoh keteladanan yang tinggi bagaimana seorang murid harus bersopan-santun pada gurunya.

Guru-guru Habib Abdul Qadir, antara lain, Habib Abdullah bin Umar Asy-Syatiry, Habib Alwy bin Abdurrahman Al-Masyhur, Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf, Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdor, Syekh Segaf bin Hasan Alaydrus, Syekh Imam Muhammad bin Abdul Qadir Al-Kattany, Syekh Umar bin Harridan Al-Magroby, Habib Ali bin Zain Al-Hadi, Habib Ahmad bin Hasan Alatas, Habib Ali bin Muhammad Al-Habsy, Syekh Abubakar bin Ahmad Al-Khatib, Syekh Abdurrahman Bahurmuz.

Dalam usia yang masih anak-anak, ia telah hafal Al-Quran. Tahun 1331 H/1912 M, ia telah mendapat ijazah dan berhak memberikan fatwa agama, antara lain di bidang hukum, dakwah, pendidikan, dan sosial. Ini merupakan anugerah Allah SWT yang telah diberikan kepada hamba pilihan-Nya.

Maka tidak berlebihan bila salah seorang gurunya, Habib Alwi bin Abdullah bin Syihab, menyatakan, ”Ilmu fiqih Marga Bilfagih setara dengan ilmu fiqih Imam Adzro’iy, sedangkan dalam bidang tasawuf serta kesusastraan bagai lautan tak bertepi.”

Sebelum meninggalkan kota Tarim untuk berdakwah, di tanah kelahirannya ia sempat mendirikan organisasi pendidikan sosial Jami’yyatul Ukhuwwah wal Mu’awanah dan Jami’yyah An-Nasr Wal Fudho’il tahun 1919 M.

Sebelum berhijrah ke Indonesia, Habib Abdul Qadir menyempatkan diri beribadah haji dan berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan dan singgah di beberapa kota dan negara, seperti Aden, Pakistan, India, Malaysia, dan Singapura. Di setiap kota yang disinggahi, ia selalu membina umat, baik secara umum maupun khusus, dalam lembaga pendidikan dan majelis taklim.

Tiba di Indonesia tepatnya di kota Surabaya tahun 1919 M/1338 H dan langsung diangkat sebagai direktur Madrasah Al-Khairiyah. Selanjutnya, ia mendirikan Lembaga Pendidikan Madrasah Ar-Rabithah di kota Solo tahun 1351 H/1931 M.

Selepas bermukim dan menunaikan ibadah haji di Makkah, sekembalinya ke Indonesia tanggal 12 Februari 1945 ia mendirikan Pondok Pesantren Darul Hadits Al-Faqihiyyah dan Perguruan Islam
Tinggi di kota Malang. Ia pernah diangkat sebagai dosen mata kuliah tafsir pada IAIN Malang pada 1330 H/1960 M.

Keistimewaan Habib Abdul Qadir adalah, ia ahli ilmu alat, nahwu, sharaf, manthiq, ilmu kalam, serta ma’any, bay
an, dan badi (tiga yang terakhir merupakan bagian ilmu sastra). Dalam bidang hadits, penguasaannya adalah bidang riwayat maupun dirayah, dan hafal ribuan hadits. Di samping itu, ia banyak mendapat hadits Al-Musalsal, yakni riwayat hadits yang tersambung langsung kepada Rasulullah SAW. Ini diperolehnya melalui saling tukar isnad (saling menukar periwayatan hadits) dengan Sayid Alwy bin Abas Al-Maliky saat berkunjung ke Makkah.

Sebagai seorang ulama yang menaruh perhatian besar dalam dunia pendidikan, ia juga giat mendirikan taklim
di beberapa daerah, seperti Lembaga Pendidikan Guru Agama di Sawangan, Bogor, dan Madrasah Darussalam Tegal, Jawa Tengah.

Banyak santrinya yang di kemudian hari juga meneruskan jejaknya sebagai muballigh dan ulama, seperti Habib Ahmad Al-Habsy (Ponpes Ar-Riyadh Palembang), Habib Muhammad Ba’abud (Ponpes Darul Nasyi’in Malang), Habib Syekh bin Ali Al Jufri (Ponpes Al-Khairat Jakarta Timur), K.H. Alawy Muhammad (Ponpes At-Taroqy Sampang, Madura). Perlu disebutkan, Prof. Dr. Quraisy Shihab dan Prof. Dr. Alwi Shihab pun alumnus pesantren ini.

Habib Abdul Qadir wafat pada 21 Jumadil Akhir 1382 H/19 November 1962 dalam usia 62 tahun. Kala saat-saat terakhirnya, ia berkata kepada putra tunggalnya, Habib Abdullah, ”... Lihatlah, wahai anakku. Ini kakekmu, Muhammad SAW, datang. Dan ini ibumu, Sayyidatunal Fatimah, datang....” Ribuan umat berdatangan untuk meyampaikan penghormatan terakhir kepada sang permata ilmu yang mumpuni itu. Setelah disemayamkan di Masjid Jami’ Malang, ia dimakamkan di kompleks makam Kasin, Malang, Jawa Timur.

Diringkas dari manaqib tulisan Habib Soleh bin Ahmad Alaydrus, pengajar Ponpes Darul Hadits Malang, Jawa Timur

Habib Abdullah bin Abdul Qodir Bil Faqih Al Alawi

Berikut saya sampaikan sekilas kisah guru dari para guru kami yakni habib Abdullah bin Abdul Qodir bil Faqih Al Alawi yang saya dapatkan dari berbagai sumber (baik dari internet maupun dari manaqib yang dibacakan pada haul beliau).

Habib Abdullah bin Abdul Qodir bil Faqih

Habib ‘Abdullah bin ‘Abdul Qadir bin Ahmad BalFaqih al-’Alawi adalah ulama yang masyhur alim dalam ilmu hadits. Beliau menggantikan ayahandanya Habib ‘Abdul Qadir bin Ahmad BalFaqih sebagai penerus mengasuh dan memimpin pesantren yang diasaskan ayahandanya tersebut pada 12 Rabi`ul Awwal 1364 / 12 Februari 1945 di Kota Malang, Jawa Timur. Pesantren yang terkenal dengan nama Pondok Pesantren Darul Hadits al-Faqihiyyah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Pesantren ini telah melahirkan ramai ulama yang kemudiannya bertebaran di segenap pelusuk Nusantara. Sebahagiannya telah menurut jejak langkah guru mereka dengan membuka pesantren-pesantren demi menyiarkan dakwah dan ilmu, antaranya ialah Habib Ahmad al-Habsyi (PP ar-Riyadh, Palembang), Habib Muhammad Ba’Abud (PP Darun Nasyi-in, Lawang), Kiyai Haji ‘Alawi Muhammad (PP at-Taroqy, Sampang, Madura) dan ramai lagi.

Di tulis oleh Aji Setiawan :

Habib Abdullah bin Abdul Qadir Bilfagih

Bak Pinang Dibelah Dua
Bapak dan anak sama-sama ulama besar, sama-sama ahli hadits, sama-sama pendidik ulung dan bijak. Merekalah Habib Abdul Qadir dan Habib Abdullah.

Masyarakat Malang dan sekitarnya mengenal dua tokoh ulama yang sama-sama kharismatik, sama-sama ahli hadits, sama-sama pendidik yang bijaksana. Mereka adalah bapak dan anak: Habib Abdul Qadir Bilfagih dan Habib Abdullah bin Abdul Qadir Bilfagih. Begitu besar keinginan sang ayah untuk “mencetak” anaknya menjadi ulama besar dan ahli hadist – mewarisi ilmunya.

Ketika menunaikan ibadah haji, Habib Abdul Qadir Bilfagih berziarah ke makam Rasulullah SAW di kompleks Masjid Nabawi, Madinah. Di sana ia memanjatkan doa kepada Allah SWT agar dikaruniai putra yang kelak tumbuh sebagai ulama besar, dan menjadi seorang ahli hadits.

Beberapa bulan kemudian, doa itu dikabulkan oleh Allah SWT. Pada 12 Rabiul Awal 1355 H/1935 M, lahirlah seorang putra buah pernikahan Habib Abdul Qadir dengan Syarifah Ummi Hani binti Abdillah bin Agil, yang kemudian diberi nama Abdullah.

Sesuai dengan doa yang dipanjatkan di makam Rasulullah SAW, Habib Abdul Qadir pun mencurahkan perhatian sepenuhnya untuk mendidik putra tunggalnya itu. Pendidikan langsung ayahanda ini tidak sia-sia. Ketika masih berusia tujuh tahun, Habib Abdullah sudah hafal Al-Quran.

Hal itu tentu saja tidak terjadi secara kebetulan. Semua itu berkat kerja sama yang seimbang antara ayah yang bertindak sebagai guru dan anak sebagai murid. Sang guru mengerahkan segala daya upaya untuk membimbing dan mendidik sang putra, sementara sang anak mengimbanginya dengan semangat belajar yang tinggi, ulet, tekun, dan rajin.

Menjelang dewasa, Habib Abdullah menempuh pendidikan di Lembaga Pendidikan At-Taroqi, dari madrasah ibtidaiyah hingga tsanawiyah di Malang, kemudian melanjutkan ke madrasah aliyah di Pondok Pesantren Darul Hadits Al-Faqihiyyah li Ahlis Sunnah Wal-Jama’ah. Semua lembaga pendidikan itu berada di bawah asuhan ayahandanya sendiri.

Sebagai murid, semangat belajarnya sangat tinggi. Dengan tekun ia menelaah berbagai kitab sambil duduk. Gara-gara terlalu kuat belajar, ia pernah jatuh sakit. Meski begitu ia tetap saja belajar. Barangkali karena ingin agar putranya mewarisi ilmu yang dimilikinya, Habib Abdul Qadir pun berusaha keras mendidik Habib Abdullah sebagai ahli hadits.

Maka wajarlah jika dalam usia relatif muda, Habib Abdullah telah hafal dua kitab hadits shahih, yakni Shahihul Bukhari dan Shahihul Muslim, lengkap dengan isnad dan silsilahnya. Tak ketinggalan kitab-kitab Ummahatus Sitt (kitab induk hadits), seperti Sunan Abu Daud, Sunan Turmudzy, Musnad Syafi’i, Musnad Imam Ahmad bin Hanbal; Muwatha’ karya Imam Malik; An-Nawadirul Ushul karya Imam Hakim At-Turmudzy; Al-Ma’ajim ats-Tsalats karya Abul Qasim At-Thabrany, dan lain-lain.

Tidak hanya menghafal hadits, Habib Abdullah juga memperdalam ilmu musthalah hadist, yaitu ilmu yang mempelajari hal ikhwal hadits berikut perawinya, seperti Rijalul Hadits, yaitu ilmu tentang para perawi hadits. Ia juga menguasai Ilmu Jahr Ta’dil (kriteria hadits yang diterima) dengan mempelajari kitab-kitab Taqribut Tahzib karya Ibnu Hajar Al-Asqallany, Mizanut Ta’dil karya Al-Hafidz adz-Dzahaby.

Empat Madzhab

Selain dikenal sebagai ahli hadits, Habib Abdullah juga memperdalam tasawuf dan fiqih, juga langsung dari ayahandanya. Dalam ilmu fiqih ia mempelajari kitab fiqih empat madzhab (Madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hanbali), termasuk kitab-kitab fiqih lain, seperti Fatawa Ibnu Hajar, Fatawa Ramli, dan Al-Muhadzdzab Imam Nawawi.

Setelah ayahandanya mangkat pada 19 November 1962 (21 Jumadil Akhir 1382 H), otomatis Habib Abdullah menggantikannya, baik sebagai pengasuh pondok peantren, muballigh, maupun pengajar. Selain menjabat direktur Lembaga Pesantren Darul Hadits Malang, ia juga memegang beberapa jabatan penting, baik di pemerintahan maupun lembaga keagamaan, seperti penasihat menteri koordinator kesejahteraan rakyat, mufti Lajnah Ifta Syari’i, dan pengajar kuliah tafsir dan hadits di IAIN dan IKIP Malang. Ia juga sempat menggondol titel doktor dan profesor.

Sebagaimana ayahandanya, Habib Abdullah juga dikenal sebagai pendidik ulung. Mereka bak pinang dibelah dua, sama-sama sebagai pendidik, sama-sama menjadi suri tedalan bagi para santri, dan sama-sama tokoh kharismatik yang bijak. Seperti ayahandanya, Habib Abdullah juga penuh perhatian dan kasih sayang, dan sangat dekat dengan para santri.

Sebagai guru, ia sangat memperhatikan pendidikan santri-santrinya. Hampir setiap malam, sebelum menunaikan shalat Tahajjud, ia selalu mengontrol para santri yang sedang tidur. Jika menemukan selimut santrinya tersingkap, ia selalu membetulkannya tanpa sepengetahuan si santri. Jika ada santri yang sakit, ia segera memberikan obat. Dan jika sakitnya serius, ia akan menyuruh seseorang untuk mengantarkannya ke dokter.

Seperti halnya ulama besar atau wali, pribadi Habib Abdullah mulia dan kharismatik, disiplin dalam menyikapi masalah hukum dan agama. Tanpa tawar-menawar, sikapnya selalu tegas: yang haq tetap dikatakannya haq, yang bathil tetap dikatakannya bathil.

Sikap konsisten untuk mengamalkan amar ma’ruf nahi munkar itu tidak saja ditunjukkan kepada umat, tapi juga kepada pemerintah. Pada setiap kesempatan hari besar Islam atau hari besar nasional, Habib Abdullah selalu melancarkan saran dan kritik membangun – baik melalui pidato maupun tulisan.

Habib Abdullah juga dikenal sebagai penulis artikel yang produktif. Media cetak yang sering memuat tulisannya, antara lain, harian Merdeka, Surabaya Pos, Pelita, Bhirawa, Karya Dharma, Berita Buana, Berita Yudha. Ia juga menulis di beberapa media luar negeri, seperti Al-Liwa’ul Islamy (Mesir), Al-Manhaj (Arab Saudi), At-Tadhammun (Mesir), Rabithathul Alam al-Islamy (Makkah), Al-Arabi (Makkah), Al-Madinatul Munawarah (Madinah).

Habib Abdullah wafat pada hari Sabtu 24 Jumadil Awal 1411 H (30 November 1991) dalam usia 56 tahun. Ribuan orang melepas kepergiannya memenuhi panggilan Allah SWT. Setelah dishalatkan di Masjid Jami’ Malang, jenazahnya dimakamkan berdampingan dengan makam ayahandanya di pemakaman Kasin, Malang, Jawa Timur.
Ayahanda beliau

Image Hosted by ImageShack.us

Habib Abdullah (kiri) dan ayahanda beliau habib Abdul Qodir Bil Faqih (tengah)

Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih Al-Alawy

Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih Al-Alawy dilahirkan di kota Tarim, Hadramaut, pada hari Selasa 15 Safar tahun 1316 H/1896 M. Saat bersamaan menjelang kelahirannya, salah seorang ulama besar, Habib Syaikhan bin Hasyim Assegaf, bermimpi bertemu Sulthanul Auliya’ Syekh Abdul Qadir Jailani. Dalam mimpi itu Syekh Abdul Qadir Jailani menitipkan kitab suci Al-Quranul Karim kepada Habib Syaikhan bin Hasyim Assegaf agar diberikan kepada Habib Ahmad bin Muhammad Bilfagih.
Pagi harinya Habib Syaikhan menceritakan mimpinya kepada Habib Ahmad. Habib Ahmad mendengarkan cerita dari Habib Syaikhan, kemudian berkata, ”Alhamdulillah, tadi malam aku dianugerahi Allah SWT seorang putra. Dan itulah isyarat takwil mimpimu bertemu Syekh Abdul Qadir Jailani yang menitipkan Al-Quranul Karim agar disampaikan kepadaku. Oleh karena itu, putraku ini kuberi nama Abdul Qadir, dengan harapan, Allah SWT memberikan nama maqam dan kewalian-Nya sebagaimana Syekh Abdul Qadir Jailani.”
Demikianlah, kemudian Habib Ahmad memberi nama Abdul Qadir karena mengharap berkah (tafa’ul) agar ilmu dan maqam Abdul Qadir seperti Syekh Abdul Qadir Jaelani.
Sejak kecil, ia sangat rajin dan tekun dalam mencari ilmu. Sebagai murid, ia dikenal sangat cerdas dan tangkas dalam menerima pelajaran. Pada masa mudanya, ia dikenal sebagai orang yang mempunyai perhatian besar terhadap ilmu dan menaruh penghormatan yang tinggi kepada guru-gurunya. Tidaklah dinamakan mengagungkan ilmu bila tidak memuliakan ahli ilmu, demikian filosofi yang terpatri dalam kalbu Habib Abdul Qadir.
Pernah suatu ketika di saat menuntut ilmu pada seorang mahaguru, ia ditegur dan diperingatkan, padahal Habib Abdul Qadir waktu itu pada pihak yang benar. Setelah memahami dan mengerti bahwa sang murid berada di pihak yang benar, sang guru minta maaf. Namun, Habib Abdul Qadir berkata, ”Meskipun saya benar, andaikan Paduka memukul muka hamba dengan tangan Paduka, tak ada rasa tidak menerima sedikit pun dalam diri hamba ini.” Itulah salah satu contoh keteladanan yang tinggi bagaimana seorang murid harus bersopan-santun pada gurunya.
Guru-guru Habib Abdul Qadir, antara lain, Habib Abdullah bin Umar Asy-Syatiry, Habib Alwy bin Abdurrahman Al-Masyhur, Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf, Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdor, Syekh Segaf bin Hasan Alaydrus, Syekh Imam Muhammad bin Abdul Qadir Al-Kattany, Syekh Umar bin Harridan Al-Magroby, Habib Ali bin Zain Al-Hadi, Habib Ahmad bin Hasan Alatas, Habib Ali bin Muhammad Al-Habsy, Syekh Abubakar bin Ahmad Al-Khatib, Syekh Abdurrahman Bahurmuz.
Dalam usia yang masih anak-anak, ia telah hafal Al-Quran. Tahun 1331 H/1912 M, ia telah mendapat ijazah dan berhak memberikan fatwa agama, antara lain di bidang hukum, dakwah, pendidikan, dan sosial. Ini merupakan anugerah Allah SWT yang telah diberikan kepada hamba pilihan-Nya.
Maka tidak berlebihan bila salah seorang gurunya, Habib Alwi bin Abdullah bin Syihab, menyatakan, ”Ilmu fiqih Marga Bilfagih setara dengan ilmu fiqih Imam Adzro’iy, sedangkan dalam bidang tasawuf serta kesusastraan bagai lautan tak bertepi.”
Sebelum meninggalkan kota Tarim untuk berdakwah, di tanah kelahirannya ia sempat mendirikan organisasi pendidikan sosial Jami’yyatul Ukhuwwah wal Mu’awanah dan Jami’yyah An-Nasr Wal Fudho’il tahun 1919 M.
Sebelum berhijrah ke Indonesia, Habib Abdul Qadir menyempatkan diri beribadah haji dan berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan dan singgah di beberapa kota dan negara, seperti Aden, Pakistan, India, Malaysia, dan Singapura. Di setiap kota yang disinggahi, ia selalu membina umat, baik secara umum maupun khusus, dalam lembaga pendidikan dan majelis taklim.
Tiba di Indonesia tepatnya di kota Surabaya tahun 1919 M/1338 H dan langsung diangkat sebagai direktur Madrasah Al-Khairiyah. Selanjutnya, ia mendirikan Lembaga Pendidikan Madrasah Ar-Rabithah di kota Solo tahun 1351 H/1931 M.
Selepas bermukim dan menunaikan ibadah haji di Makkah, sekembalinya ke Indonesia tanggal 12 Februari 1945 ia mendirikan Pondok Pesantren Darul Hadits Al-Faqihiyyah dan Perguruan Islam Tinggi di kota Malang. Ia pernah diangkat sebagai dosen mata kuliah tafsir pada IAIN Malang pada 1330 H/1960 M.
Keistimewaan Habib Abdul Qadir adalah, ia ahli ilmu alat, nahwu, sharaf, manthiq, ilmu kalam, serta ma’any, bayan, dan badi (tiga yang terakhir merupakan bagian ilmu sastra). Dalam bidang hadits, penguasaannya adalah bidang riwayat maupun dirayah, dan hafal ribuan hadits. Di samping itu, ia banyak mendapat hadits Al-Musalsal, yakni riwayat hadits yang tersambung langsung kepada Rasulullah SAW. Ini diperolehnya melalui saling tukar isnad (saling menukar periwayatan hadits) dengan Sayid Alwy bin Abas Al-Maliky saat berkunjung ke Makkah.
Sebagai seorang ulama yang menaruh perhatian besar dalam dunia pendidikan, ia juga giat mendirikan taklim di beberapa daerah, seperti Lembaga Pendidikan Guru Agama di Sawangan, Bogor, dan Madrasah Darussalam Tegal, Jawa Tengah.
Banyak santrinya yang di kemudian hari juga meneruskan jejaknya sebagai muballigh dan ulama, seperti Habib Ahmad Al-Habsy (Ponpes Ar-Riyadh Palembang), Habib Muhammad Ba’abud (Ponpes Darul Nasyi’in Malang), Habib Syekh bin Ali Al Jufri (Ponpes Al-Khairat Jakarta Timur), K.H. Alawy Muhammad (Ponpes At-Taroqy Sampang, Madura). Perlu disebutkan, Prof. Dr. Quraisy Shihab dan Prof. Dr. Alwi Shihab pun alumnus pesantren ini.
Habib Abdul Qadir wafat pada 21 Jumadil Akhir 1382 H/19 November 1962 dalam usia 62 tahun. Kala saat-saat terakhirnya, ia berkata kepada putra tunggalnya, Habib Abdullah, ”… Lihatlah, wahai anakku. Ini kakekmu, Muhammad SAW, datang. Dan ini ibumu, Sayyidatunal Fatimah, datang….” Ribuan umat berdatangan untuk meyampaikan penghormatan terakhir kepada sang permata ilmu yang mumpuni itu. Setelah disemayamkan di Masjid Jami’ Malang, ia dimakamkan di kompleks makam Kasin, Malang, Jawa Timur.

diringkas dari manakib tulisan Habib Soleh bin Ahmad Alaydrus, pengajar Ponpes Darul Hadits Malang, Jawa Timur

Sumber :

http://qomarfauzie.wordpress.com

Manaqib Habib Husein Bin Abu Bakar Alaydrus (Luar Batang)





َالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

بِِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرّحِيْم اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْن اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى الِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍِ اَمَّا بَعْدُ : قَالَ اللهُ تَعَالَى فىِ الْقُرْانِ الْكَرِيْم اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرّجِيْم بِِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرّحِيْم اَلاَ اِنَّ اَوْلِْيَاءَ الله لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَهُمْ يَحْزَنُوْنَ اَلَّذِيْنَ امَنُوْا وَكَانُوا يَتَّقُوْنَ لَهُمُ الْبُشْرى فىِ الْحَيوةِ الّدُنْيَا وَفىِ اْلاخِيْرَة لاَ تَبْدِيْلَ لِكَلِمَاتِ اللهِ ذَالِكَ هُوَ الْفَوْزُالْعَظِيْم صَدَقَ اللهُ الْعَظِيْم

Hari ini bertepatan dengan hari Ahad di akhir bulan Syawwal, hari ini kita sama-sama memperingati haul dari seorang wali besar, ulama hebat pada zamannya yang hingga kini masih terus dan terus dikenang perjuangan dan kisah hidupnya dalam berdakwah menegakkan kalimat LaaIlahaIllallah Muhammadurrosulullah, yaitu Haulnya Al-habib Al-imam Husein Bin Abu Bakar Alaydrus, Keramat Luar Batang yang ke 261.

Al-imam Husein Bin Abu Bakar Alaydrus memiliki silsilah yang sampai kepada Baginda Rasulullah SAW, di mana silsilah beliau yaitu: Al-imam Husein Bin Abu Bakar Bin Abdullah Bin Husein Bin Ali Bin Muhammad Bin Ahmad Bin Husein Ibnil Imam Syamsi Syumus Abdullah Alaydrus Akbar. Beliau dilahirkan di sebuah desa yang bernama Ma’ibad, Hadralmaut Yaman Selatan, dan pada usianya yang ke 11 tahun, beliau ditinggal wafat oleh ayahnya.

Selepas mangkatnya ayahnya, Al-imam Husein Bin Abu Bakar Alaydrus hijrah ke kota Tarim, dan ternyata di pintu kota Tarim telah menunggu seorang wali besar, yaitu Quthbil Irsyad, Al-imam Abdullah Bin Alwy Alhaddad, yang langsung menyambut kedatangan dari Al-imam Husein Bin Abu Bakar Alaydrus. Setelah tiba di kota Tarim, beliau didampingi oleh Al-imam Abdullah Bin Alwy Alhaddad langsung berziarah kepada Sayyidina Faqih Muqaddam Al’imam Muhammad Bin Ali Ba’alawy, Sayyidina Abdurrahman Bin Muhammad Assegaf dan Datuk Beliau Sayyidina Abdullah Alaydrus Akbar. Al-imam Abdullah Bin Alwy Alhaddad mengatakan kepada beliau bahwa semalam kakekmu, Sayyidina Abdullah Alaydrus Akbar datang kepadaku dan mengabarkan tentang kedatanganmu wahai Husein.

Al-imam Husein Bin Abu Bakar Alaydrus menimba ilmu kepada Quthbil Irsyad, Al-imam Abdullah Bin Alwy Alhaddad, dan menurut cukilan dari Alhabib Ali Bin Husein Alattas dalam kitabnya Taajul A’rasy mengatakan bahwa Al-imam Husein Bin Abu Bakar Alaydrus sebelum hijrah ke Indonesia, beliau telah mendapatkan mandat kepercayaan dari guru beliau Al-imam Abdullah Bin Alwy Alhaddad untuk melaksanakan da’watul islam.

Al-imam Husein Bin Abu Bakar Alaydrus kemudian hijrah ke Asia Timur dan sampai di Indonesia, lalu setibanya di pulau Jawa, tepatnya di Pelabuhan Sunda Kelapa, beliau diusir kembali oleh penjajah Belanda. Akhirnya dengan bantuan para Muhibbin di malam hari dengan menggunakan sekoci beliau tiba kembali di Pelabuhan Sunda Kelapa. Beliau kemudian berda’wah di tanah Batavia ini dan pada saat itu penjajah Belanda sangat sensitif kepada para ulama karena di Sunda Kelapa ini masih ada bekas-bekas pertempuran Sunda Kelapa yang berada di bawah pimpinan dari Sunan Gunung Jati Al-imam Syarif Hidayatullah dan Fatahillah, sehingga penjagaannya sangat ketat dan berakibat pada dicurigainya Al-Habib Husein Bin Abu Bakar Alaydrus sebagai pemberontak, akhirnya beliau dimasukkan ke dalam penjara, yang berada di sekitar Glodok.

Perjuangan da’wah Al-imam Husein Bin Abu Bakar Alaydrus sangatlah luar biasa, dan salah satu karomah beliau adalah di pagi hari beliau berada di dalam penjara sementara anehnya menjelang maghrib beliau sudah tidak ada di dalam penjara, beliau menyampaikan da’wah-da’wahnya di musholla dan masjid-masjid, sehingga membuat takut para sipir penjara dan akhirnya kepala sipir penjara tersebut meminta agar Habib Husein keluar saja dari dalam penjara tapi beliau menolaknya sampai akhirnya beliau keluar dari penjara dengan keinginannya sendiri.

Pada suatu ketika di dalam perjalanan da’wahnya, Al-imam Husein Bin Abu Bakar Alaydrus melihat seorang tentara Belanda yang memang memiliki akhlak yang baik terhadap beliau, di mana tentara Belanda ini selalu menegur dan ramah terhadap Beliau. Akhirnya Habib Husein memanggilnya dan mengatakan bahwa tentara Belanda tersebut kelak akan menjadi Gubernur, di Batavia. tentara Belanda tersebut berkata sambil tertawa “mana mungkin aku menjadi seorang Gubernur”. Selang beberapa bulan kemudian sang tentara Belanda tersebut dipanggil ke negerinya dan kembali ke Batavia untuk dipercaya menjadi Gubernur.

Sang tentara Belanda yang kini telah menjadi Gubernur teringat akan Habib Husein dan menemui beliau seraya ta’jub atas perkataan dari Habib Husein dan sebagai balasannya Tentara ini memberikan hadiah berupa uang, bahkan emas, tetapi semuanya ditolak oleh Habib Husein. Karena Gubernur tersebut memaksa, Akhirnya Al-habib Husein Bin Abu Bakar Alaydrus berkata bahwa jika Engkau ingin memberiku hadiah, maka berikanlah aku tanah yang berada di luar pelabuhan Sunda Kelapa yang saat itu sedang surut. Tentara belanda tersebut kaget dan berkata percuma bila Aku berikan tanah tersebut, sebentar lagi air akan naik dan daratan itu akan terendam air laut. Al-habib Husein berkata “bila Engkau berikan sekarang, maka mulai saat ini air tidak akan pernah pasang bahkan hingga yaumil qiyamah”.. Allahu Akbar.. sehingga akhirnya diberikanlah tanah tersebut.

Al-habib Husein Bin Abu Bakar Alaydrus memiliki tanah ± 10 hektar dan di atas tanah tersebut, kemudian pertama kali yang dibangun oleh Al-imam Husein Bin Abu Bakar Alaydrus adalah Masjid, kemudian rumah beliau yang saat ini menjadi tempat pusaranya beliau. Dan semenjak itu, dipatok tanah-tanah tersebut yang besarnya ± sampai 10 hektar dengan pilar dan batang-batang sehingga daerah ini dikenal dengan sebutan “Luar Batang”, disebabkan diluar pelabuhan Sunda Kelapa muncullah batang-batang. Di sini beliau bersama salah satu muridnya Haji Abdul Qodir yang merupakan penterjemahnya mengajarkan kepada murid-muridnya yang dating dari Banten, Indramayu, Cirebon, Tuban Gresik dan pelosok-pelosok kota lain di Indonesia.

Al-imam Husein Bin Abu Bakar Alaydrus Wafat pada Malam 17 Ramadhan, akan tetapi mengapa acara haul dari beliau diperingati setiap hari Ahad di akhir bulan Syawwal?

Karena ini merupakan ijtima’ dari para ulama dan habaib yang saat itu berada di bawah pimpinan Mufti Betawi yaitu Alhabib Utsman Bin Abdullah Bin Yahya. Di mana para penjajah saat itu masih menguasai dan transportasi yang sangat sulit sekali serta bertepatan dengan keadaan orang-orang yang sedang berpuasa, sehingga diputuskanlah oleh para ulama dan habaib agar pelaksanaan Haul Al-imam Husein Bin Abu Bakar Alaydrus diadakan pada akhir Ahad bulan Syawwal, di mana setelah orang-orang melaksanakan silaturrahim lebaranan barulah kembali berkumpul dan bersilaturrahim di pusara beliau untuk memperingati Haulnya Al-imam Husein Bin Abu Bakar Alaydrus.

Inilah sekelumit tentang perjalanan dan perjuangan dari Al-imam Husein Bin Abu Bakar Alaydrus. Semoga Allah semakin mengangkat derajat beliau dan semoga kita semua mendapatkan curahan keberkahan, rahasia-rahasia dan ilmu serta karomah dari Al-imam Husein Bin Abu Bakar Alaydrus.. Amin Ya Robbal Alamin.

َالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه